SIGMA FISIKA

SELAMAT DATANG DI BLOG KAMI TEMPAT BELAJAR DAN BERBAGI ILMU PENGETAHUAN

Friday, October 13, 2017

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN




A.      Model Pembelajaran (Model Of Teaching)
Joyce & Weil (1980) mendefinisikan model pembelajaran sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan pembelajaran. Dengan demikian, model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Jadi model pembelajaran cenderung preskriptif, yang relatif sulit dibedakan dengan strategi pembelajaran. 

1.      Pencapaian Konsep (Concept Attainment)
Model pembelajaran pencapaian konsep dikembangkan oleh Bruner (Joyce, 2010:32). Bruner, Goodnow, dan Austin (1967) dalam Joyce (2010:125) menyatakan bahwa pencapaian konsep merupakan proses menvariasi dan mendaftar sifat-sifat yang dapat digunakan untuk membedakan contoh-contoh yang tepat dengan contoh yang tidak tepat dari berbagai kategori.
Model pembelajaran pencapaian konsep merupakan metode yang efisien untuk mempresentasikan informasi yang telah terorganisir dari suatu topik yang luas menjadi topik yang lebih mudah dipahami untuk setiap stadium perkembangan konsep. Model pembelajaran pencapaian konsep ini dapat memberikan suatu cara menyampaikan konsep dan mengklarifikasi konsep-konsep serta melatih siswa menjadi lebih efektif pada pengembangan konsep.
 Joyce (2010:128) menyatakan bahwa pengajaran konsep menyediakan kemungkinan–kemungkinan untuk menganalisis proses-proses berpikir siswa dan membantu mereka mengembangkan strategi-strategi yang lebih efektif. Dari pernyataan Joyce tersebut menunjukkan bahwa model pembelajaran pencapaian konsep menekankan pada proses mengembangkan keterampilan berpikir siswa

2.      Latihan Penelitian (Inquiry Training)
Model Inquiry Training (Latihan Inkuiri) adal.ah model pembelajaran dimana pengajar melibatkan kemampuan berpikir kritis pembelajaran untuk menganalisis dan memecahkan persoalan secara sistematik. Latihan inkuiri bertolak dari kepercayaan bahwa agar seseorang menjadi mandiri, dituntut metode yang dapat memberi kemudahan pada pembelajar untuk melibatkan diri dalam penelitian ilmiah. Model pembelajaran ini menggunakan pendekatan induktif dalam menemukan pengetahuan dan berpusat pada keaktifan pembelajar. Jadi bukan pembelajaran yang berpusat pada pengajar. Dalam model pembelajaran ini isi dan proses peyelidikan diajarkan bersama-sama dalam waktu yang bersamaan. Pembelajar melalui proses penyelidikan akhimya sampai kepada isi pengetahuan itu sendiri. Jadi, tujuan umum dan model latihan inlmiri adalah membantu peserta didik mengembangkan keterampi~an intelektual dan keterampilan-keterampilan lrunnya, seperti mengajukan pertanyaan dan menemukan (mencari) jawaban yang berawal dari keingintahuan mereka (Sani dan Syihab, 2010:17-18).
Joyce dan Weil (2009) mengemukakan pembelajaran model inquiry training memiliki 5 langkah pokok:
1)        Menghadapkan pada masalah: menjelaskan prosedur penelitian, menjelaskan perbedaan- perbedaan.
2)        Pengumpulan data (Verifikasi): memverifi- kasi hakikat objek dan kondisinya memve- rifikasi peristi\w. dari keadaan permasalahan.
3)        Pengumpulan data (Eksperimentasi): memi- sahkan variabel yang relevan, menghipotesiskan (serta menguji) hubungan kausal.
4)        Mengolah, memformulasikan suatu penjelasan: memformulasikan aturan dan penjelasan.
5)        Analisis proses penelitian: menganalisis strategi penelitian dan mengembangkan yang paling efektif

                3.        Berpikir induktif (Inductive Thinking) 
Taba dalam Purwanto (2012) model pembelajaran berpikir induktif sebenarnya merupakan pembawaan sejak lahir dan keberadaannya sudah absah. Ia hadir sebagai suatu revolusioner, mengingat sekolah-sekolah saat ini telah memutuskan untuk mengajar dalam corak yang tidak absah dan sering merongrong kapasitas bawaan sejak lahir.
Model belajar berfikir induktif (inductive thinking) sangat diperlukan dalam kegiatan akademik. Berfikir induktif (inductive thinking) adalah kemampuan untuk menganalisa informasi dan membangun konsep umumnya dianggap sebagai keterampilan pemikiran mendasar. Bahkan jika pembelajaran konsep tidak begitu kritis dalam perkembangan pemikiran, organisasi informasi yang begitu fundamental dalam ranah kurikulum. Dengan demikian, pemikiran induktif akan menjadi model yang sangat penting untuk belajar dan mengajar mata pelajaran sekolah.

                 4.      Model Sinektik (Synectics Model)
Gordon (dalam Joyce 2011:252) menggagas sinektik berdasarkan empat gagasan yang sekaligus juga menyaingi pandangan-pandangan konvensional tentang kreativitas. Pertama, karena kreativitas penting dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, proses kreatif tidak selamanya serius. Ketiga, penemuan yang dianggap inovasi atau kreatif sama rata di semua bidang seni, sains, teknik, dan ditandai oleh proses intelektual yang sama. Keempat, bahwa penemuan (pola pikir kreatif) individu maupun kelompok tidak berbeda. Melalui aktivitas metaforis dalam model sinektetik, kreativitas menjadi proses yang dapat dijalankan secara sadar. Metafora-metafora membangun hubungan perumpamaan,perbandingan satu objek atau gagasan dengan objek atau gagasan lain, dengan cara menukarkan posisi keduanya.
Melalui substitusi ini, proses kreatif muncul, yang dapat menghubungkan sesuatu yang familiar dengan yang tidak familiar atau membuat gagasan baru dari gagasan-gagasan yang biasa. Terdapat dua strategi atau model pengajaran yang didasarkan pada prosedur-prosedur sinektik. Salah satunya adalah membuat sesuatu yang baru (creating something new), dirancang untuk membuat hal-hal yang familiar menjadi asing, untuk membantu siswa melihat masalah-masalah, gagasan-gagasan, dan hasil-hasil yang lama dengan cara yang baru, pandangan yang lebih kreatif. Sedangkan strategi yang lain yaitu membuat yang asing menjadi familiar (making the strange familiar), dirancang untuk membuat gagasan-gagasan yang baru dan tidak familiar menjadi bermakna.

5.      Problem Based Learning


Problem based learning merupakan pembelajaran berdasarkan masalah, telah dikenal sejak zaman Jonh Dewey. Dewey mendeskripsikan pandangan tentang pendidikan dengan sekolah sebagai cermin masyarakat yang lebih besar dan kelas akan menjadi laboratorium untuk penyelidikan dan penuntasan masalah kehidupan nyata (Arends, 2008:46).

Pembelajaran berdasarkan masalah merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran dimana siswa mengerjakan permasalahan yang otentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan keterampilan berpikir tingkat lebih tinggi,

mengembangkan kemandirian dan kepercayaan diri, hal ini diungkapkan Arends dalam Trianto (2007: 68).

Dari pendapat tersebut diatas dapat dipahami bahwa problem based learning atau pembelajaran berbasis masalah adalah suatu model pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi peserta didik untuk belajar, dengan membangun cara berpikir kritis dan terampil dalam pemecahan masalah, serta mengkostruksi pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran. Jadi problem based learning memiliki gagasan bahwa pembelajaran dapat efektif dan dicapai jika kegiatan pembelajaran dipusatkan pada tugas-tugas atau permasalahan yang otentik, relevan dan dipresentasikan dalam suatu konteks.



2. Karakteristik Model Problem Based Learning

Problem based learning dengan pengharapan peserta didik belajar di lingkungan kecil atau kelompok kecil akan membantu perkembangan masyarakat belajar. Bekerja dalam kelompok juga membantu mengembangkan karakteristik esensial yang dibutuhkan untuk sukses setelah siswa tamat belajar seperti dalam berkomunikasi secara verbal, berkomunikasi secara tertulis dan keterampilan membangun team kerja.

Dari berbagai model pembelajaran yang mulai dikembangkan itu memiliki masing-masing karakteristik. Para pengembang pembelajaran problem based learning (Krajcik, Blumenfeld, Marx, Soloway, Slavin Maden, Dolan, Wasik, Cognition dan Teknology Group at Vanderbit) telah mendeskripsikan karakteristik sebagai berikut (Arends, 2009: 42):



· Pengajuan pertanyaan atau masalah.

Pembelajaran problem based learning mengorganisasi pembelajaran dengan diseputar pertanyaan dan masalah yang kedua-duanya secara sosial penting dan secara pribadi bermakna bagi peserta didik. Pengajuan situasi kehidupan nyata autentik untuk menghindari jawaban sederhana, dan memungkinkan adanya berbagai macam solusi untuk situasi itu.

· Berfokus pada interdisipliner.

Meskipun problem based learning dipusatkan pada subjek tertentu atau mata pelajaran tertentu, akan tetapi masalah yang dipilihkan benar-benar nyata agar dalam pemecahannya siswa meninjau masalah itu dari banyak mata pelajaran

· Investigasi autentik

Problem based learning mengharuskan siswa untuk melakukan investigasi autentik atau peyelidikan autentik untuk menemukan solusi riil. Mereka harus menganalisis, mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis dan membuat prediksi, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melaksanakan eksprimen (bila memungkinkan) membuat inferensi dan menarik kesimpulan.

· Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya

Problem based learning menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata atau artefak dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka
temukan. Produk tersebut dapat berupa transkrip debat, debat bohong-bohongan, dan dapat juga dalam bentuk laporan, model fisik, video, maupun program computer. Karya nyata itu kemudian di demonstrasikan kepada teman-temannya yang lain tentang apa yang telah mereka pelajari dan menyediakan suatu alternatif segar terhadap laporan tradisional atau makalah.
 

· Kolaborasi

Problem based learning dicirikan oleh siswa yang bekerjasama satu sama lain, paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok-kelompok kecil. Bekerjasama memberikan motivasi untuk keterlibatan secara berkelanjutan dalam tugas-tugas kompleks dan meningkatkan kesempatan untuk melakukan penyelidikan dan dialog bersama dan untuk mengembangkan berbagai keterampilan sosial dan keterampilan berpikir.

Jadi problem based learning tidak dirancang untuk membantu guru menyampaikan informasi dengan jumlah besar kepada peserta didik, akan tetapi problem based learningdirancang terutama untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir, keterampilan menyelesaikan masalah dan keterampilan intelektualnya, mempelajari peran-peran orang dewasa dengan mengalaminya melalui berbagai situasi riil atau situasi yang disimulasikan, dan menjadi peserta didik yang mandiri dan otonom. 
Keterampilan berpikir yang dibangun pada pelaksanaan problem based learning tentu berimplikasi dari apa yang menjadi karakternya. Tingkat berpikir
                     

3.         Prosedur Pelaksanaan Model Problem Based Learning

Konsep tentang problem based learning adalah sangat jelas, tidak rumit dan mudah untuk menangkap ide-ide dasar yang terkait dengan model ini. Namun bagaimanapun juga pelaksanaan model itu secara efektif lebih sulit. Penerapan model pembelajaran ini membutuhkan banyak latihan dan mengharuskan untuk mengambil keputusan-keputusan khusus pada saat fase perencanaan, interaksi dan fase setelah pembelajarannya.

Beberapa prinsip pembelajaran sama dengan prinsip yang telah dideskripsikan untuk presentasi, pengajaran langsung dan cooperative learning, tetapi sebagian lainnya unik bagi problem based learning. Penekanan diberikan pada ciri unik model tersebut dalam proses pelaksanaannya adalah (Arends, 2009: 52-56), (Ibrahim dan Nur, 2005: 24-29) :


a.   Melaksanakan Perecanaan

Pada tingkat yang paling mendasar, problem based learning dicirikan mengenai peserta didik bekerja dalam berpasangan atau kelompok kecil untuk melakukan penyelidikan masalah-masalah kehidupan nyata yang belum teridentifikasi dengan baik. Karena tipe pembelajaran ini sangat tinggi kualitas interaktifnya, beberapa ahli berpendapat bahwa perencanaan yang terinci tidak dibutuhkan dan bahkan tidak mungkin. Penyederhanaan ini tidak benar. Perencanaan untuk pembelajaran problem based learning seperti halnya dengan pelajaran interaktif yang lain, pendekatan yang berpusat pada peserta didik, membutuhkan upaya perencanaan sama banyaknya atau bahkan lebih. Perencanaan guru itulah yang memudahkan pelaksanaan berbagai fase pembelajaran problem based learning dan pencapaian tujuan pembelajaran yang diinginkan. 

1)      Penetapan tujuan

Penetapan tujuan pembelajaran khusus untuk pembelajaran problem based learning merupakan salah satu di antata tiga pertimbangan penting perencanaan. Sebelumnya problem based learning dirancang untuk membantu mencapai tujuan-tujuan yaitu meningkatkan keterampilan intelektual dan investigasi, memahami peran orang dewasa, dan membantu peserta didik untuk menjadi mandiri. Akan tetapi  kemungkinan  yang  lebih  besar  adalah  guru  hanya  akan menekankan pada satu atau dua tujuan 
pembelajaran tertentu.

2)      Merancang situasi masalah

Problem based learning didasarkan pada anggapan dasar bahwa situasi bermasalah yang penuh teka teki dan masalah yang tidak terdefinisikan secara ketat akan merangsang rasa ingin tahu peserta didik hingga membuat mereka tertarik untuk menyelidiki.

Menurut Sanjaya (2008: 216) bahan pembelajaran atau masalah yang ditawarkan adalah gap atau kesenjangan antara situasi nyata dan kondisi yang diharapkan, atau antara kenyataan yang terjadi dengan apa yang di harapkan. Kesenjangan tersebut bisa dirasakan dari adanya keresahan, keluhan, kerisauan dan kecemasan. Oleh karena itu kriteria pemilihan bahan pelajaran atau masalah adalah :

a)      Masalah yang mengandung isu-isu, konflik (compflict issue) yang bisa bersumber dari berita, rekaman video dan yang lainya.

b)      Yang dipilih adalah bahan yang bersifat familier dengan peserta didik, shingga setiap peserta didik dapat mengikutinya dengan semangat.

c)      Yang dipilih merupakan bahan yang berhubungan dengan kepentingan orang banyak (universal), sehingga terasa manfaatnya.
d)     Yang dipilih merupakan bahan yang mendukung tujuan atau kompetensi yang harus dimiliki oleh peserta didik sesuai dengan kurikulum yang berlaku.

e)      Yang dipilih sesuai dengan minat peserta didik sehingga setiap peserta didik merasa perlu untuk mempelajarinya.

3)     Organisasi sumber daya dan rencana logistik

Problem based learning mendorong peserta didik untuk bekerja dengan berbagai bahan dan alat, beberapa di antaranya dilakukan di dalam kelas, yang lainnya di perpustakaan atau laboratorium komputer, sementara yang lainnya berada di luar sekolah. Untuk pekerjaan yang berada di luar sekolah mendatangkan masalah khusus bagi guru. Oleh karena itu tugas mengorganisasikan sumber daya dan merencanakan kebutuhan untuk penyelidikan peserta didik, haruslah menjadi tugas perencanaan yang utama bagi guru.


    b. Melaksanakan Pembelajaran

Pada pelaksanaan problem based learning ada lima fase dan prilaku yang dibutuhkan dari guru untuk dilalui yakni :

1)        Memberikan orientasi masalah kepada siswa

Guru harus menjelaskan proses-proses dan prosedur-prosedur model itu secara terperinci, hal yang perlu dielaborasi antara lain:

a)   Tujuan utama pembelajaran bukan untuk mempelajari sejumlah besar informasi baru tetapi menginvestigasi berbagai permasalah penting dan menjadi pelajar yang mandiri. Untuk peserta didik yang lebih muda, konsep ini dapat dijelaskan sebagai pelajaran bagi mereka untuk dapat “menemukan sendiri makna berbagai hal”.

b)   Permasalah atau pertanyaan yang diinvestigasi tidak memiliki jawaban yang mutlak “benar” dan sebagian besar permasalahan kompleks memiliki banyak solusi yang kadang-kadang saling bertentangan.

c)      Selama fase investigasi pelajaran, peserta didik akan didorong untuk melontarkan pertanyaan dan mencari informasi. Guru akan memberikan bantuan, tetapi siswa mestinya berusaha bekerja secara mandiri atau dengan teman-temannya.

d)  Selama fase analisis dan penjelasan pelajaran, siswa akan di dorong untuk mengekspresikan ide-idenya secara terbuka dan bebas. Tidak ada ide yang ditertawakan oleh guru maupun teman sekelas. Semua siswa akan diberi kesempatan untuk berkonstribusi dalam investigasi dan mengekspresikan ide-idenya.

2)        Mengorganisasikan siswa untuk belajar

Pada model pembelajaran berdasarkan masalah dibutuhkan pengembangan keterampilan kerjasama diantara siswa dan saling membantu untuk menyelidiki masalah secara bersamaan. Berkenaan dengan hal tersebut peserta didik memerlukan bantuan guru untuk merencanakan penyelidikan dan tugas-tugas pelaporan.


3)        Membantu penyelidikan individu dan kelompok

Hal yang dilakukan guru adalah membantu penyelidikan peserta didik secara individu maupun kelompok dengan jalan yaitu:

a)      Pengumpulan data dan eksperimentasi, guru membantu peserta didik untuk pengumpulan informasi dari berbagai sumber, peseta didik diberi pertanyaan yang membuat mereka berpikir tentang suatu masalah dan jenis informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah tersebut. Peserta didik diajarkan untuk menjadi penyelidik yang aktif dan dapat menggunakan metode yang sesuai untuk masalah yang dihadapinya, peserta didik juga perlu diajarkan apa dan bagaimana etika penyelidikan yang benar.

b)      Guru mendorong pertukaran ide secara bebas dan penerimaan sepenuhnya gagasan-gagasan tersebut merupakan hal yang sangat penting dalam tahap penyelidikan dalam rangka, selama tahap penyelidikan, guru seharusnya menyediakan bantuan yang dibutuhkan tampa mengganggu aktifitas peserta didik.

c)      Mengembangkan dan menyajikan artifak dan pameran. Artifak lebih dari sekedar laporan tertulis, artifak meliputi berbagai karya seperti videotape yang menunjukkan situasi masalah dan pemecahan yang diusulkan. Setelah artifak dikembangkan, maka guru seringkali mengorganisasikan pamertan untuk memamerkan dan mempublikasikan hasil karya tersebut.


4)    Analisis dan Evaluasi Proses Pemecahan Masalah

Tahap akhir problem based learning meliputi aktivitas yang dimaksudkan untuk membantu siswa menganalisa dan mengevaluasi proses berpikir mereka sendiri dan di samping itu juga keterampilan penyelidikan dan keterampilan intelektual yang mereka gunakan.




SINTAKS PROBLEM BASED LEARNING

Fase

Perilaku Guru





Fase 1: Orientasi siswa kepada maslah
Guru
menjelaskan  tujuan
pembelajaran,

menjelaskan
logistik
yang
dibutuhkan,

memotivasi  siswa  terlibat  pada  aktivasi

pemecahan masalah yang dipilihnya






Fase 2: Mengorganisasi siswa untuk belajar
Guru
membantu
peserta
didik

mendefinisikan
dan
mengorganisasikan

tugas  belajar  yang  berhubungan  dengan

masalah tersebut.






Fase 3:  Membimbing penyelidikan individu
Guru   mendorong  peserta   didik  untuk
maupun kelompok
mengumpulkan
infomasi
yang
sesuai

melaksanakan

eksprimen,
untuk

mendapatkan
penjelasan  dan  pemecahan

masalah










Fase 4: Mengembangkan  dan menyajikan
Guru
membantu
siswa
dalam
hasil karya
merencanakan dan menyiapkan karya yang

sesuai  seperti  laporan,  video,  dan  model

dan membantu mereka untuk berbagi tugas

dengan temannya.





Fase 5: Mengembangkan dan mengevaluasi
Guru   membantu   peserta   didik   untuk
proses pemecahan masalah
melakukan refleksi atau evaluasi terhadap

penyelidikan  mereka  dan  proses-proses

yang mereka gunakan.












Sumber Referensi :





Share:

0 comments:

Post a Comment

About

Blogger templates